selamat datang para pecinta ilmu pemgetahuan

saya mencoba mendokumenkan tugas-tugas makalah yang pernah saya buat semoga bermanfaat bagi semua.....salam kenal "23Yieb"

Kamis, 26 Mei 2011

makalah persalinan

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrohim
Alhamdulillah,puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat,taufiq dan hidayah-Nya,sehingga pembuatan makalah ini dapat terselesaikan.Shalawat serta salam sermoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.sebagai suri tauladan bagi kita semua Amin.
Malah yang berjudul’’persalinan’’ini di buat untuk melengkapi tugas Biologi Reprodukksi
Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya tidak lupa penulis sampaikan kepada semua pihak khususnya pengajar yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan baik moral maupun spiritual yang dapat membantu penulis dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisan.Namun demikian,penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usulan guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Dalam sejadah bisu hamba bersimpuh,menyatukan air mata dalam telaga hati,memohon petunjuk-Mu,semoga dalm goresan ini mendapat ridla-Mu.Rabbana laatuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa hablana milladunka rahmatan antal wahhab.
Amien.
Cirebon,6 Desember 2010

Penulis





TEORI SEBAB SEBAB TERJADINYA PERSALANAN

Sebab-sebab mulainya persalinan belum diketahui dengan jelas, banyak faktor yang memegang peranan dan bekerja sama sehingga terjadi persalinan (muchtar, 1998), diantaranya :
a. Teori penurunan hormon.
1 sampai 2 minggu sebelum persalinan terjadi penurunan kadar estrogen dan progesteron, progesteron mengakibatkan relaksasi otot-otot rahim, sedangkan estrogen meningkatkan kerentanan otot-otot rahim. Selama kehamilan terjadi keseimbangan antara kadar estrogen dan progesteron tetapi akhir kehamilan terjadi penurunan kadar progesteron sehingga timbul his.
b. Teori Distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang akan menyebabkan iskemik otot-otot rahim sehingga timbuk kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
c. Teori iritasi mekanik.
Dibelakang serviks terletak ganglion sevikalis, bila ganglion ini ditekan oleh kepala janin maka akan timbul kontraksi uterus.
d. Teori plasenta menjadi tua.
Akibat plasenta tua menyebabkan turunnya kadar progesteron yang mengakibatkan ketegangan pada pembuluh darah, hal ini menimbulkan kontraksi rahim.
e. Teori Prostaglandin.
Protaglandin yang dihasilkan oleh desidua menjadi sebab permulaan persalinan karena menyebabkan kontraksi pada miometrium pada setiap umur kehamilan. f. Indikasi Partus.
Partus dapat ditimbulkan dengan pemberian oksitoksin drips, menurut tetesan perinfus dan pemberian gagang laminaria kedalam kanalis sevikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser, sehingga timbul kontraksi dan melakukan amniotomi yaitu pemecahan ketuban.

MEKANISME PERSALINAN NORMAL
Selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati panggul – “seven cardinal movements of labor” yang terdiri dari :
1. Engagemen
2. Fleksi
3. Desensus
4. Putar paksi dalam
5. Ekstensi
6. Putar paksi luar
7. Ekspulsi
Gerakan-gerakan tersebut terjadi pada presentasi kepala dan presentasi bokong.
Gerakan-gerakan tersebut menyebabkan janin dapat mengatasi rintangan jalan lahir dengan baik sehingga dap[at terjadi persalinan per vaginam secara spontan.
A. Engagemen
 Suatu keadaan dimana diameter biparietal sudah melewati pintu atas panggul.
 Pada 70% kasus, kepala masuk pintu atas panggul ibu pada panggul jenis ginekoid dengan oksiput melintang (tranversal)
 Proses engagemen kedalam pintu atas panggul dapat melalui proses normal sinklitismus , asinklitismus anterior dan asinklitismus posterior :
o Normal sinklitismus : Sutura sagitalis tepat diantara simfisis pubis dan sacrum.
o Asinklitismus anterior : Sutura sagitalis lebih dekat kearah sacrum.
o Asinklitismus posterior: Sutura sagitalis lebih dekat kearah simfisis pubis (parietal bone presentasion
B. Fleksi
Gerakan fleksi terjadi akibat adanya tahanan servik, dinding panggul dan otot dasar panggul. Fleksi kepala diperlukan agar dapat terjadi engagemen dan desensus. Bila terdapat kesempitan panggul, dapat terjadi ekstensi kepala sehingga terjadi letak defleksi (presentasi dahi, presentasi muka).
C. Desensus
Pada nulipara, engagemen terjadi sebelum inpartu dan tidak berlanjut sampai awal kala II; pada multipara desensus berlangsung bersamaan dengan dilatasi servik.
Penyebab terjadinya desensus :
1) Tekanan cairan amnion
2) Tekanan langsung oleh fundus uteri pada bokong
3) Usaha meneran ibu
4) Gerakan ekstensi tubuh janin (tubuh janin menjadi lurus)

Faktor lain yang menentukan terjadinya desensus adalah :
• Ukuran dan bentuk panggul
• Posisi bagian terendah janin
Semakin besar tahanan tulang panggul atau adanya kesempitan panggul akan menyebabkan desensus berlangsung lambat. Desensus berlangsung terus sampai janin lahir. Putar paksi dalam- internal rotation .
• Bersama dengan gerakan desensus, bagian terendah janin mengalami putar paksi dalam pada level setinggi spina ischiadica (bidang tengah panggul).
• Kepala berputar dari posisi tranversal menjadi posisi anterior (kadang-kadang kearah posterior).
• Putar paksi dalam berakhir setelah kepala mencapai dasar panggul.
D. Ekstensi
Aksis jalan lahir mengarah kedepan atas, maka gerakan ekstensi kepala harus terjadi sebelum dapat melewati pintu bawah panggul. Akibat proses desensus lebih lanjut, perineum menjadi teregang dan diikuti dengan “crowning”. Pada saat itu persalinan spontan akan segera terjadi dan penolong persalinan melakukan tindakan dengan perasat Ritgen untuk mencegah kerusakan perineum yang luas dengan jalan mengendalikan persalinan kepala janin. Episiotomi tidak dikerjakan secara rutin akan tetapi hanya pada keadaan tertentu.
Proses ekstensi berlanjut dan seluruh bagian kepala janin lahir.
 Setelah kepala lahir, muka janin dibersihkan dan jalan nafas dibebaskan dari darah dan cairan amnion. Mulut dibersihkan terlebih dahulu sebelum melakukan pembersihan hidung.
 Setelah jalan nafas bersih, dilakukan pemeriksaan adanya lilitan talipusat sekitar leher dengan jari telunjuk. Lilitan talipusat yang terjadi harus dibebaskan terlebih dahulu. Bila lilitan talipusat terlalu erat dapat dilakukan pemotongan diantara 2 buah klem.
 Putar paksi luar- external rotation
 Setelah kepala lahir, terjadi putar paksi luar (restitusi) yang menyebabkan posisi kepala kembali pada posisi saat engagemen terjadi dalam jalan lahir.
 Setelah putar paksi luar kepala, bahu mengalami desensus kedalam panggul dengan cara seperti yang terjadi pada desensus kepala.
 Bahu anterior akan mengalami putar paksi dalam sejauh 450 menuju arcus pubis sebelum dapat lahir dibawah simfisis.
 Persalinan bahu depan dibantu dengan tarikan curam bawah pada samping kepala janin .
 Setelah bahu depan lahir, dilakukan traksi curam atas untuk melahirkan bahu posterior.
 Traksi untuk melahirkan bahu harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari cedera pada pleksus brachialis.
 Setelah persalinan kepala dan bahu, persalinan selanjutnya berlangsung pada sisa bagian tubuh janin dengan melakukan traksi pada bahu janin.
 Setelah kelahiran janin, terjadi pengaliran darah plasenta pada neonatus bila tubuh anak diletakkan dibawah introitus vagina.

PERSALINAN NORMAL
Persalinan merupakan peristiwa yang sangat besar dan sangat mendalam kesannya karena mengadakan semula yang belum ada. Dengan demikian persalinan berarti melahirkan seorang anak yang telah lama ditunggu kedatangannya. Sebagai seorang bidan harus mempunyai keyakinan bahwa persalinan merupakan proses yang alamiah atau fisiologis. Persalinan juga merupakan pengalaman yang sangat bermakna bagi perempuan, keluarga dan masyarakat.
1. Pengertian Persalinan.
Partus atau persalinan normal adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina kedunia luar (Sarwono Prawiroharjo). Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin atau uri) yang telah cukup bulan atau hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan/ kekuatan sendiri ( Manuaba, 1998 ).
Persalinan adalah peristiwa lahirnya anak disertai plasenta dan dan air ketuban dari kandungan ibunya ( zr. dra. Christina S Ibrahim ).
Apabila bayi/anak dan air ketuban saja sedangkan plasenta belum lahir berarti proses persalinan masih belum selesai, hal ini dikarenakan masih harus ada peristiwa kelahiran lagi yang terjadi, yaitu kelahiran plasenta atau uri. Persalinan yang terjadi secara normal atau biasa disebut eutocia, dari bahasa Yunani eu artinya baik dan tocos yang artinya kelahiran. Jadi eutocia adalah kelahiran yang baik, dianggap kelahiran anak yang normal/ fisiologis.



2. Tanda-tanda Permulaan Persalinan.
Sebelum terjadinya persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki bulannya atau minggunya atau harinya yang disebut kala pendahuluan ( Prepatory Stage of Labour ).
3.PEMBAGIAN FASE / KALA PERSALINAN
Kala 1
Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
DIMULAI pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid.
BERAKHIR pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas :
1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).
Peristiwa penting pada persalinan kala 1
1. keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
3. selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara :
1. pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan – pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan
2. pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) – pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.


Kala 2
Pengeluaran bayi (kala pengeluaran) DIMULAI pada saat pembukaan serviks telah lengkap.
BERAKHIR pada saat bayi telah lahir lengkap.
His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat.
Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2.
Peristiwa penting pada persalinan kala 2
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi).
Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.
Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala
1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.

Kala 3
Pengeluaran plasenta (kala uri) DIMULAI pada saat bayi telah lahir lengkap.
BERAKHIR dengan lahirnya plasenta.
Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah.
Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat.
Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.
(jika lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae – keadaan gawat darurat obstetrik !!).

Kala 4
Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi 7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 :
1) kontraksi uterus harus baik,
2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) kandung kencing harus kosong,
5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) resume keadaan umum bayi, dan
7) resume keadaan umum ibu.

4. HIS
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut.
Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.
 Terjadinya his, akibat :
1. kerja hormon oksitosin
2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi 3
3. rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.
 His yang baik dan ideal meliputi :
1. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
2. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
3. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
4. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his
5. serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot,akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka.
 Nyeri persalinan pada waktu his dipengaruhi berbagai faktor :
1. iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri.
2. peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.
3. keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi).
4. prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress
Pengukuran kontraksi uterus
1. amplitudo : intensitas kontraksi otot polos : bagian pertama peningkatan agak cepat, bagian kedua penurunan agak lambat.
2. frekuensi : jumlah his dalam waktu tertentu (biasanya per 10 menit).
3. satuan his : unit Montevide (intensitas tekanan / mmHg terhadap frekuensi).
 Sifat his pada berbagai fase persalinan
Kala 1 awal (fase laten)
Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat.
Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir
Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4 kali / 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm).
Kala 2
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum. Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Kala 3
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid).
.



3. Faktor-faktor Yang Berperan Dalam Persalinan.
• POWER ( tenaga/ kekuatan ibu ).Yang dimaksud dengan power adalah tenaga untuk mengejan, yaitu kontraksi/his dari tenaga mengejan ibu.
• PASSANGER.Yang dimaksudkan passanger disini ialah anak, air ketuban, dan plasenta sebagai isi dari uterus yang akan dilahirkan.
• PASSAGE.Passage ialah jalan kelahiran dan bentuk panggul. Jalan lahir lunak meliputi otot-otot, jaringan-jaringan, ligamen-ligaman. Jalan lahir tulang meliputi tulang-tulang panggul (rangka panggul).
• PSIKIS WANITA/ IBU.
• PENOLONG. Ketika persalinan dimulai peran ibu, keluarga dan petugas sangatlah penting.
• Peran Ibu : melahirkan bayinya.
• Peran Petugas : memantau proses persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi.
• Peran Keluarga : memberikan bantuan serta dukungan pada ibu saat persalinan.
TANDA-TANDA INPARTU.
• Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
• Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan kecil pada serviks.
• Kadang-kadang ketuban keluar dengan sendirinya.
• Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar.

DAFTAR PUSTAKA

dr. Nugroho Kampono,dr. H. Endy M. Moegni,Posted on April 3, 2008 by harnawatiaj

Wiwiek midwife,only midwifery
Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR). Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : JNPK-KR, Maternal & Neonatal Care, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002






















Labib el Muna

STID Al BIRUNI CIREBON

Pesantren dan Pemberdayaan Masyarakat

Meskipun tidak seluruh pesantren dibangun bersamaan atau sebelum suatu masyarakat di luar pesantren hadir, Pesantren selalu memiliki hubungan dengan masyarakat terlepas dari seperti apa bentuk hubungan itu. Unsur-unsur yang terlibat dalam hubungan ini adalah kesatuan masyarakat dengan pemberdayaannya dan Kiai sebagai pemimpin dalam pesantren.
Dalam tulisan karya ilmiah ini hanya akan membahas identifikasi hubungan dua unsur di atas. Dengan menggunakan konsep strukturalisme sastra, yang menganggap bahwa hubungan lebih penting dari pada unsur itu sendiri, karya ilmiah kecil ini akan memaparkan ke-dinamisan hubungan masyarakat dan pesantren dalam kehidupan.
Diantara unsur-unsur tersebut, Kiai-lah satu-satunya unsur yang berbentuk eksekutif individual, individual di sini bisa berarti ‘individu’ dalam arti yang sebenarnya maupun satu dalam keadaan dan status. Ke-Individuan ini bisa disebabkan karena keilmuan dan akhlaq yang dimiliki juga kemampuan memimpin masyarakat pesantren (baca: santri). Selain itu, karena kiai-lah yang membangun pesantren, disamping juga yang menyebabkan lahirnya masyarakat sekitar jika pesantren dibangun sebelum atau bersamaan dengan kehadiran masyarakat. Namun tidak jarang pula di beberapa pesantren seorang kiai lahir karena hanya sebagai anak dari orang tuanya.
Metode pemilihan penerus seperti memudahkan hubungan kiai baru dengan masyarakat yang sezaman dengan ayahnya dan juga kiai baru ini memiliki kedekatan dengan masyarakat yang tumbuh bersamanya. Selain itu, cara seperti ini dapat memberikan kepastian kepada calon kiai bahwa dialah yang akan menggantikan ayahnya, sehingga dapat mempersiapkan mental dan kemampuan. Bakal kiai pun akan semakin mudah menangani santri karena telah mengetahui pola prilaku santri dan mendapat pelajaran manajemen pesantren dari kiai sebelumnya yang juga ayahnya sendiri.
Sebenarnya, praktek pemindahan kekuasaan dengan metode kerajaan seperti ini sama sekali tidak membahayakan, jika saja kemampuan dari keturunan kiai dapat dijamin, namun adakah yang menjamin kemampuan bakal kiai ini, jika kiai sendiri masih kewalahan mendidik santri. Jika kapasitas bakal kiai ini jauh di bawah pendahulunya, maka akan dipastikan kepercayaan masyarakat dan santri kepada kiai akan menurun. Dan hal inilah yang yang lebih vital dibandingkan dengan beragam kelebihan sebelumnya.
Struktur adalah seperangkat unit sosial yang relatif stabil dan berpola, sedangkan fungsi adalah proses dinamis yang terjadi dalam struktur tersebut. Dalam penerapan pada hubungan Pesantren dengan masyarakat, terutama dalam pemberdayaanya, Kiai dituntut untuk lebih intensif berinteraksi dengan masyarakat. Meskipun dalam struktural masyarakat, kiai sama halnya dengan masyarakat sipil lainnya, namun dalam fungsi, kiai memiliki pengaruh besar dalam beberapa dimensi kehidupan.
Pada umumnya, para sosiolog mengambil analogi organisme hidup untuk menggambarkan kehidupan bermasyarakat. Dalam masyarakat Indonesia, khususnya yang berinteraksi dengan pesantren, kebanyakan adalah Masyarakat Paguyuban (gemain schaft) analogi semacam itu sangat tepat. Maka hubungan Pesantren dan masyarakat dapat digambarkan sebagai usaha untuk memperdayakan sagala kebaikan dalam masyarakat.
Dalam berbagai dimensi kehidupan, pesantren dapat memberikan pengaruhnya dalam masyarakat, tidak hanya dalam dimensi pendidikan. Namun pengaruh-pengaruh lain hanya sebagai tambahan pelengkap dibandingkan dengan dimensi pendidikan. Masyarat umum melihat bahwa pemberdayaan masyarakat hanya sebatas pengaruh ekonomi. Meskipun tidak hanya sebatas itu, namun hal urgent yang sekarang harus kita perhatikan memanglah masalh perekonomian. Lalu apa yang dapat pesantren lakukan dengan keadaan perekonomian masyarakat yang carut marut?
Ada bebrapa pergeseran yang terjadi dalam konsep kiai dulu dengan sekarang. Dulu Kiai adalah sosok yang sedrhana dengan kehidupan yang selayaknya masyarakat lain. Namun, yang penulis lihat, sekarang Kiai telah memiliki penghasilan yang lebih dibandimhkan dengan masyarakat. Hal ini berdampak pada pandangan masyarakat awam. Tentu saja akan terjadi kecemburuan sosial jika hal ini dibiarkan. Bahkan kredibilitas Kiai-pun menjadi taruhan jika perbedaan kelas ini tidak ditanggulangi dengan baik.
Negara kita bukanlah komunis yang melarang adanya kelas-kelas sosial, bukan juga kapitalis yang mematenkan kelas. Harus ada kelas diatas yang mampu menarik kelas dibawah. Perekonomian khas Islam (baca: zakat) telah memberikan satu contoh jawaban. Namun, itu hanya conto yang diberikan Islam, selayaknya ada langkah-langkah lain yang diambil Pesantren selaku pusat pendidikan Islam dalam memberdayakan masyarakat.





Daftar Pustaka:
Ratna, Prof. Dr. SU Nyoman Kutha, Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009
Munandar Sulaiman, Ir. M., Ilmu Sosial Dasar (edisi Revisi), PT. Eresco, Bandung, 1986
Muwardi, Drs., Hidayati, Ir. Nur, IAD, IBD, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2009
























автомобильный видеорегистратор цена























автовидеоригестратор























видеорегестратор























продажа авто регистратора китай























мини камеры и видеорегистраторы























видеорегистратор миниатюрный























китайские видеорегистраторы























dvr видеорегистратор























автомобильные видеорегистраторы отзывы























камера в автомобиль автономный видеорегистратор























мини видеорегистраторы























автовидеорегистратор























видеорегистратор цены























автомобільний відеорегістратор























видеорегистраторы цена

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar