selamat datang para pecinta ilmu pemgetahuan

saya mencoba mendokumenkan tugas-tugas makalah yang pernah saya buat semoga bermanfaat bagi semua.....salam kenal "23Yieb"

Sabtu, 14 Mei 2011

makalah hadist (takhrijul hadits )

ILMU TAKHRIJ HADITS
MAKALAH
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS ULUMUL HADITS
Dosen Pembimbing:
Ibu Siti Zulaikha, Drs. M.M.Pd




Disusun oleh :
Yuli Yulianti
Yusup Akhmad Prayogi
Daim Faqot



FAKULTAS AGAMA ISLAM

BKI
( BIMBINGAN KONSELING ISLAM )

UNIVERSITAS WIRALODRA INDRAMAYU
2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada junjunan kita Nabi besar Muhammad Saw. Beserta keluarganya dan para pengikutnya yang setia sampai hari kiamat.
Alhamdulillah wa syukurillah berkat Rahmat dan Hidayah Allah SWT, kami dapat menyelesaikan tugas makalah ulumul hadits,yang membahas tentng Takhrij Hadits walau dalam penjelasanya tidak luput dengan kekurangan dan kesalahan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ulumul Hadits dengan harap semoga ibu Siti Zulekha dapat memberikan kritik dan saran agar makalah ini penuh dengan pelajaran yang dapat kami ambil, sehingga menjadi cermin untuk tugas berikutnya dan kami mengucapkan banyak terimakasih atas bimbingannya, semoga ibu dapat memberikan keikhlasan dalam membimbing, agar kami mendapatkan kemanfaat ilmu yang bisa menuntun kami kejalan yang diridhoi Allah SWT. “Allahhuma Amin”
semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan amal baik khususnya bagi kami dan umumnya bagi orang yang membacanya.

“ Allahumma shalli’ala sayyidina Muhammad ”



BAB I
PENDAHULUAN

Dalam Agama Islam manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu agar kehidupannya terarah dan barokhah di dunia dan akhirat, kenapa harus ilmu ? ilmu adalah cahaya yang mengarahkan kita kejalan yang lurus maksudnya kejalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Kita mencari ilmu secara tidak langsung kita mencari derajat yang tinggi dihadapan Allah. Semakin banyak memiliki ilmu semakin ditinggikanlah derajat kita tapi dengan catatan kita harus mau mengamalkannya pada orang lain.
Dalam mempelajari ilmu hadits kita juga perlu mengetahui sejarah hadits, penukilan, penyampaian, kualitas , keadaan dll. Kenapa ? hadits juga merupakan dalil yang bisa dijadikan penyelesaan sebuah masalah, tapi supaya hadits itu dapat kita yakini. Ya, kita harus mengetahui keadaan hadits, kualitas dll. Suatu nasehat dapat kita percayai apabila kita mempercayai orang yang menyampaikannya, kita akan mempercayai oaring yang menyampaikannya kita harus mengetahui dulu tingkah lakunya. sama juga halnya dengan sebuah hadits agar kita mempercayainya, kita terlebih dahulu mengenal siapa yang mengeluarkannya dan bagamana keadaan orang yang mengeluarkanya itu. Mungkin dalam pembahasn kami kali ini menekankan pada cara mengeluarkan hadits baik dengan keadaan perawinya, maupun terhadap kualitas haditsnya, dengan mentakhrij kita dapat mengetahui keadaan hadits dan kualitasnya. Untuk mengetahuinya lebih dalam kita harus menggunakan metode-metode. Seperti : Metode Takhrij Naql, Tashih dan I’ tibar. Yang akan dipaparkan dalam bab berikutnya.bukan hanya itu saja, kita juga bisa mengetahui kegunaan dan tujuan dari takhrij hadits.
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………………….. v
BAB I.PENDAHULUAN………………………………………………………. vi
BAB II.PEMBAHASAN
1. Pengertian Takhrij Hadits……………………………………………………… 1
2. Metode Takhrij Hadits………………………………………………………….. 2
3. Tujuan dan Kegunaan Takhrij Hadits…………………………………….. 7
BAB III.PENUTUP
1. Kesimpulan…………………………………………………………………………… 10
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………. 11











BAB II
PEMBAHASAN
ILMU TAKHRIJ HADITS

A. Pengertian
Takhrij menurut bahasa memiliki beberapa makna. Yang paling mendekati disini adalah berasal dari kata kharaja, yang artinya nampak dari tempatnya atau keadaannya, terpisah dan kelihatan . Demikian juga kata Ikhraja yang artinya menampakkan atau memperlihatkannya. Dan kata al-makhraj yang artinya tempat keluar serta “akhraj al-hadits wa kharajahu” yang artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dari dengan menjelaskan tempat keluarnya.
Sedangkan menurut istilah muhaditsin , takhrij dapat diartikan dalam beberapa pengertian :
I. Mengemukakan hadits kepada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam rangkaian sanad yang telah menyampaikan hadits itu.
II. Ulama hadits yang mengeluarkan berbagai hadits yang telah dikemukakan oleh para guru hadits atau berbagai kitab atau lainnya dikemukakan berdasarkan periwayatannya sendiri para gurunya atau orang lain. Dengan menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab.
III. Menunjukan asal usul hadits dan mengemukakan sumber pengambilan dari berbagai kitab hadits yang disususn oleh mukharrij-nya.
IV. Mengemukakan hadits berdasarkan sumber pengambilannya dan di dalamnya disertai metode periwayatan dan sanadnya masing-masing dengan menjelaskan keadaan perawi dan kualitas haditsnya.
V. Menunjukan letak asal hadits pada sumber aslinya yang di dalamnya disertai sanad dari masing-masing hadits yang ditentukan tersebut.
Rumusan Dr. Mahmud al- Thahhah tentang ta’rif takhrij adalah : “ Takhrij adalah penunjukan terhadap tempat hadits dalam sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan martabatnya sesuai dengan keperluan”.
Dari uraian di atas takhrij dapat disimpulkan :
a) Periwayatan ( penerimaan, perawatan, pentadwinan, dan penyampaian ).
b) Penukilan hadits dari kitab-kitab asal untuk dihimpun dalam suatu kitab tertentu.
c) Mengutip hadits-hadits dari kitab-kitab fan ( tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, dan akhlak ) dengan menerangkan sanad-sanadnya.
d) Membahas hadits-hadits sampai diketahui martabat kualitas ( maqbul dan Mardudnya ).

B. Metode Takhrij
Takhrij suatu metode untuk menentukan kehujahan hadits serta unsur-unsurnya. Yang terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Takhrij Naql
Takhrij dalam bentuk ini kegiatannya berupa penelusuran, penukilan dan pengambilan hadits dari beberapa kitab/ diwan hadits ( mashadir al-asliyah ), sehingga dapat diidentifikasi hadits-hadits tertentu yang dikehendaki lengkap dengan rawi dan sanadnya masing-masing. Penakhrijan dalam arti naql telah banyak diperkenalkan oleh para ahli hadits, diantaranya yang dikemukakan oleh Dr. Mahmud al-Thahhan yang menyebutkan lima teknik dalam menggunakan metode takhrij Naql diantaranya :
 Takhrij dengan mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadits
 Takhrij dengan mengetahui lafadz asal matan hadits
 Takhrij dengan mengetahui lafadz matan hadits yang kurang dikenal
 Takhrij dengan mengetahui tema atau pokok bahasan hadits
 Takhrij dengan mengetahui matan dan sanad hadits
Dalam hal ini kami meringkas metode tersebut menjadi empat, karena metode yang dikemukakan oleh Dr. Mahmud al-Thahhan, dari lima metode tersebut salah satu metodenya telah dibahas oleh metode sebelumnya.
a) Melalui pengenalan nama sahabat perawi hadits
Metode ini hanya digunakan bilamana nama sahabat itu tercantum pada hadits yang akan ditakhrij apabila nama sahabat tersebut tidak tercantum dalam hadits itu dan tidak dapat diusahakan untuk mengetahuinya , maka sudah barang tentu metode ini tidak dapat dipakai. Apabila nama sahabat itu tercantum dalam hadits tersebut atau tidak tercantum. Masih dapat diketahui dengan cara tertentu , maka dapat digunakan tiga macam kitab, yaitu : kitab-kitab musnad, mu’jam dan athraf.
 Kitab-kitab musnad adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan nama sahabat, atau hadits-hadits para sahabat dikumpulkan secara tersendiri. Kitab-kitab musnad yang ditulis oleh para ahli itu sangatlah banyak, sebagaian diantaranya :
a. Musnad Ahmad bin Hanbal.
b. Musnad Abu Baqr Sulaiman ibn Dawud al-Thayalisi
c. Musnad Ubaidillah, dll.
 Kitab Mu’jam adalah kitab yang ditulis menurut nama-nama sahabat , guru, negeri,dll. Dalam kitab tersebut penulisan nama-nama sahabatnya diurutkan secara alfabetis, contohnya :
a. Mu’jam al-Shahabah li Ahmad ibn al-Hamdani.
b. Mu’jam al-Shahabah li abi Ya’al Ahmad ‘ Ali al-mashili, dll.
 Kitab Athraf adalah kitab yang penyususnannya hanya menyebutkan sebagaian matan hadits yang menunjukan keseluruhannya. Kemudian sanad-sanadnya baik secara keseluruhan atau dinisbatkan pada kitab-kitab tertentu yang mana kitab ini biasanyamengikuti musnad sahabat. Kitab Athraf diantaranya :
a. Athraf al-Shahihain li Abi Mas’ud Ibrahim Ibn Muhamad al-Dimasyiqi.
b. Athraf al-Shahihain li Abi muhamad Khalaf ibn Muhamad al-Wasitfi,dll.
b) Melalui pengenalan salah satu lafadz hadits.
Metode ini hanya menggunakan satu kitab penunjuk saja, yaitu : “ Al-Mu’jam al-Mufarhas li alfazh al-Hadits al-Nabawi”. Kitab ini merupakan susunan orang orientalis barat yang bernama Dr.A.J. Wensink, Dr. Muhamad Fuad ‘ Abd al-Baqi. Kitab-kiatb yang jadi rujukan dari kitab ini adalah kitab yang Sembilan, diantaranya : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa’I, SSunan ibn Majah , Muwatha Malik, Musnad Ahmad dan Sunan ad-Darimi. Yang mana masing –masing mempunyai kode tersendiri.
c) Melalui pengamatan tema hadits
Metode ini akan mudah digunakan oleh orang yang sudah terbiasa dan ahli dalam hadits. Orang yang awam akan hadits akan sulit menggunakan metode ini , karena yang dituntut dari metode ini adalah kemampuan menentukan tema dari suatu hadits yang akan ditakhrijkan. Baru kita membuka kitab yang mengandung tema tersebut. Adapun kitab-kitab yang akan digunakann dalam metode ini adalah kitab-kitab yang disusun secara tematis. Serta kitab-kitab ini dapat dibedakan dalam tiga kelompok :
 Kitab-kitab yang berisi seluruh tema Agama diantaranya :
• Al-jami’ al Shahih Li al-Bukhari.
• Al-Jami’ al Shahih Li Muslim.
• Mustakhraj al-Ismaili
 Kitab-kitab yang berisi sebagian banyak tema-tema Agama, seperti kitab Sunah,
yaitu:
• Sunah Abi Dawud Li Sulaiman Ibn al-Asy’ats al Sijitsan.
• Al Muwatha ‘ Li al-Imam Malik Ibn Anas al-Madani.
 Kitab yang hanya berisi satu tema Agama saja, yaitu :
• Al-Ahkam Li’ Abd Al-Ghani ibn’ Abd al Wahid al Muqdisi.
d) Melalui pengenalan tentang sifat khusus matan atau sanad hadits
Yang dimaksud dengan metode takhrij ini adalah memperhatikan keadaan dan sifat hadits baik yang ada pada matan maupun sanadnya. Pertama yang harus diperhatikan adalah keadaan sifat yang ada pada matan kemudian yang ada pada sanad lalu kemudian yang ada pada keduanya.
Dari segi matan : apabila pada hadits itu tampak ada tanda-tanda kemaudhuan, maka cara yang paling mudah untuk mengetahui asal hadits itu adalah mencari dalam kitab-kitab yang mengumpulkan hadits maudhu. Dalam kitab ini ada yang disususn dalam alfabetis antara lain kitab al-mashnu’ al-hadits al-maudhu’li al syaikh’ al qori al syari’ah. Dan ada yang secara matematis antara lain kitab tanzih al-syari’ah al- marfu’ah al-ahadits al-syafiah al-maudhu li al kanani.
Dari segi sanad : apabila dalam sanad suatu hadits ada ciri tertentu, misalnya isnad hadits itu mursal, maka hadits itu dapat dicari dalm kitab-kitab yang mengumpulkan hadits-hadits mursal atau ada seorang perawi yang lemah sanadnya, maka dapat dicari dalam kitab mizan al-I’tidal li al- dzahahi.
Dari segi matan dan sanad : ada beberapa sifat dan keadaan yang kadang-kadang terdapat pada matan dan kadang-kadang pada sanad, maka untuk mencari hadits semacam itu dapat di cari dalam kitab : ‘ilal al hadits li ibn abi hakim al-razi dan Al- Mustafad min Mubhamat al- matn wa al- isnad li abi Zar’ah Ahmad Ibn al- Rahim al- Iraqi.
2. Takhrij Tashhih
Cara ini sebagai lanjutan dari cara yang pertama diatas. Tashhih dalam arti menganalisis keshahihan hadits dengan mengkaji rawi, sanad dan matan berdasarkan kaidah. Kegiatan tashhih dengan menggunakan kitab ‘ Ulum al-Hadits yang berkaitan dengan Rijal, Jarh wa al-Ta’dil, ma’an al-Hadits Gharib al- Hadits. Kegiatan ini dilakukan oleh Mudawin ( kolektor ) sejak Nabi Muhammad saw. Sampai abad 3 H. Dan dilakukan oleh para Syarih ( komentator ) sejak abad 4 H. sampai sekarang.
3. Takhrij I’tibar
Cara ini sebagai lanjutan dari cara yang kedua di atas. I’tibar berarti mendapatkan informasi dan petunjuk dari literature, baik kitab yang asli, kitab syarah dan kitab fan yang memuat dalil-dalil hadits. Secara teknis, proses pembahasan yang perlu ditempuh dalam studi dan penelitian hadits sebagai berikut :
 Dilihat, apakah hadits tersebut benar-benar sebagai hadits.
 Memperhatikan unsure hadits seperti : sanad, matan dan perawi.
 Termasuk jenis hadits apa hadits tersebut, dari segi rawi, matan dan sanadnya.
 Bagaiman kualitas hadits tersebut.
 Bila hadits itu maqbul, bagaimana ta’amulnya , apakah ma’mul bih (dapat diamalkan) atau ghoir ma’ul bih.
 Teks hadits harus dipahami ungkapannya, maka perlu diterjemahkan.
 Memahami asbab wurud hadits.
 Apa isi kandungan hadits tersebut.
 Menganalisis problematika.

C. Tujuan dan Kegunaan Mentakhrij hadits
Ilmu Takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang penting untuk dipelajari dan dikuasai , karena di dalamnya dijelaskan berbagai kaidah untuk mengetahui asal sumber hadits.serta kita bisa mengetahui kualitas sanad sebuah hadits. Tujuan pokok mentakhrij hadits adalah untuk mengetahui sumber asal hadits yang ditakhrij dan untuk mengetahui keadaan hadits tersebut yang berkaitan dengan maqbul dan mardud –nya. Sedangkan kegunaan Takhrij antara lain :
 Dapat mengetahui keadaan hadits.
 Dapat mengetahui keadaan sanad hadits dan silsilahnya
 Dapat meningkatkan kualitas suatu hadits
 Dapat mengetahui bagaiman pandangan para ulama terhadap keshahihan subuah hadits
 Dapat mengetahui mana perawi yang ditinggal atau yang dipakai.
 Dapat menetapkan suatu hadits yang dipandang Mubham menjadi tidak Mubham.
 Dapat menetapkan Muttashil kepada hadits yang diriwayatkan dengan menggunakan adat At- Tahammul Wa Al-a’da. ( kata-kata yang dipakai dalam penerimaan dan periwayatan hadits ) dengan an”anah ( kata-kata an/dari ).
 Dapat memastikan identitas para perawi, baik berkaitan dengan Kun-nya (julukan), laqab ( gelar ) atau nasab ( keturunan ) dengan nama yang jelas.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Takhrij menurut bahasa memiliki beberapa makna. Yang paling mendekati disini adalah berasal dari kata kharaja, yang artinya nampak dari tempatnya atau keadaannya, terpisah dan kelihatan. Sedangkan menurut istilah adalah Mengemukakan hadits berdasarkan sumber pengambilannya dan di dalamnya disertai metode periwayatan dan sanadnya masing-masing dengan menjelaskan keadaan perawi dan kualitas haditsnya.
Metode untuk menentukan kehujahan hadits serta unsur-unsurnya. Yang terbagi menjadi tiga, yaitu : Naql, tashhih dan I’ tibar.
Tujuan pokok mentakhrij hadits adalah untuk mengetahui sumber asal hadits yang ditakhrij dan untuk mengetahui keadaan hadits tersebut yang berkaitan dengan maqbul dan mardud –nya. Sedangkan kegunaan Takhrij antara lain :
 Dapat mengetahui keadaan hadits.
 Dapat mengetahui keadaan sanad hadits dan silsilahnya
 Dapat memastikan identitas para perawi, baik berkaitan dengan Kun-nya (julukan), laqab ( gelar ) atau nasab ( keturunan ) dengan nama yang jelas, dll.



DAFTAR PUSTAKA :

Dr. Utang Ranuwijaya, MA. 2001. Ilmu Hadits. Jakarta : Gaya Media Pratama.
Prof. Dr. H. Endang Soetari Ad, M.Si. 2008. Ilmu Hadits. Bandung : Mimbar Pustaka.
Qadir Hasan , A. 2001. Ilmu Mustholah Hadits. Bandung : CV. Diponogoro.
http : // www. Google.co.id. Abu al;Jauzaa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar